Indikator negara gagal (the failed state) dalam islam

Indikator negara gagal(The Failed State)
dalam perspektif Islam

Ahmad Al Khathwany, dari Al Quds, Palestina

Beberapa waktu terakhir dimedia barat sering didengung-dengungkan tentang apa itu negara gagal(failed States) dan apa indikasinya, oleh karena itu banyak lembaga yang mencoba mendefinisikan tentang ukuran-ukuran, tingkatan, dan titik-titik dimana negara itu dikategorikan gagal atau berhasil. Mereka mengamatinya dari sisi ekonomi, kondisi politik, masyarakat. Lalu, mereka berupaya menentukan indikator dari sisi-sisi tersebut.
Tahun 2005 ada laporan dari sebuah lembaga independen yang berisi nama-nema negara yang termasuk kategori berdasar sejumlah indikator tertentu. Pada tahun 2007 ada juga laporan dari sebuah majalah Furin Policy yang menklasifikasi 177 negara berdasarkan 12 indikator –termasuk perekonomian, kemasyarakatan, dan politik- yang menentukan mereka termasuk dalam negara gagal atauberhasil. Berikut keduabelas indikatornya :
1. tekanan demografis, persebaran penduduk, jumlahnya, dan potensi konflik di dalamnya.
2. potensi masalah keimigrasian dan keemigrasian
3. sistem politik yang merugikan kaum mayoritas, mennyejahterakan minoritas.
4. tidak adanya cendikiawan yang menbangun negara (pindah warga negara atau mengasing).
5. tidak adanya pertumbuhan ekonomi yang baik serta kesenjangan ekonomi di bidang pendidikan, pekerjaan dan pendapatan.
6. inflasi, tidak seimbangnya neraca ekonomi, turunnya kurs, dan turunnya investasi dan anjloknya pendapatan perkapita.
7. hilangnya legitimasi negara, banyaknya koruptor, akuntabilitas yang tidak transparan dan lemahnya lembaga kepercayaan.
8. pelayanan masyarakat yang tidak memadai.
9. pelanggaran hukum dan hak asasi manusia.
10. masalah keamanan misalnya, ada negara dalam negara, negara dikontrol militer, dan munculnya konflik senjata diberbagai pusat kekuasan.
11. pemerintah dikontrol hanya oleh segelintir orang dan munculnya daerah yang rawan memberontak(terlalu otonom).
12. turut campurnya negara lain kedalam negara tertentu untuk mengatur perundang-undangannya, pasukan militernya dan berbagai macam bantuan keamanan dan keselamatan suatu negara.

itulah 12 indikator yang dijadikan dasar apakah negara itu gagal atau tidak. Dan dari 12 hal itulah dapat diambil kesimpulan bahwa negara gagal adalah negara yang tidak bisa mengatur urusannya atau menguasai negaranya sendiri. Biasanya hal itu berkaitan dengan urusan keamanannya, bisa juga karena kegagalan pemerintahan dalam mengambil keputusan berpengaruh. Lalu bisa juga ditambahkan karena gagalnya pemerintah dalam mengatur pelayanan pada masyarakatnya. Bisa juga akibat dari ketidakmampuannya untuk meningkatkan posisi tawarnya dimata dunia internasional dan juga bisa karena tingginya tingkat kriminalitas dan munculnya pemberontakan.
Dan berdasar laporan tersebut negara yang sekarang disebut-sebut sebagai failed stated rupanya cocok dengan indikator-indikator tersebut. Terbukti, Somalia, Sudan, Iraq, Kongo, Sierra leone, Chad, Yaman, Afrika Tengah, Liberia, Pantai Gading, dan Haiti masuk dalam kategori sepuluh besar pertama dalam laporan lembaga tersebut. Dan adapan mesir, Bangladesh, Saudi, dan mayoritas negara arab dan negeri-negeri islam masuk dalam 50 besar nama-nama negara gagal.
Tetapi rupanya lembaga-lembaga independen barat itu tidak tahu satu hal penting yaitu dampak dari itu semua juga disebabkan negara-negara imperialis barat yang menjajah ekonomi, politik, masyarakat dari negara gagal(failed state). Dan mereka juga lupa bahwa yang menguasai kebijakan vital negara gagal itu adalah negara kafir penjajah(imperialis barat) sementara pemerintah negara gagal sendiri hanyalah sebagai boneka yang mengatur masalah-masalah non vital saja. Wal hasil sampai sekarang negara gagal itu tak bisa keluar dari krisis yang menimpanya. Dengan kata lain, kesengsaran itu semua memang disengaja dan dibuat oleh Amerika dan negara imperialis barat lalu mereka –para pejabat negara gagal itu- adalah agen dan antek-anteknya. Dan sebenarnya inilah faktor utama penyebab mereka dikatakan negaranya gagal yaitu, karena penjajahan yang dilakukan negara kafir barat penjajah.
Adapun negara-negara gagal -yang kebanyakan negeri-negeri kaum musliminyang sekarang sedang kita digantungkan asa untuk tegaknya islam- bukanlah islam dan syariahnya penyebab kegagalan melainkan karena faktor para pemimpin, pemerintah, dan undang-undang buatan manusianya. Karena pada faktanya ketika islam ditegakkan dengan sempurna yang justru terjadi adalah negara itu adil, maju, berkembang pesat dan hakekatnya semakin negeri islam menjauh dari hukum islam semakin gagal, mundur, dan terpuruklah mereka.
Dan didalam perspektif Islam pun ada indikator-indikator negara yang dikatakan gagal dalam pandangan Syara’ :
1. kedzaliman penguasa
عن النعمان بن بشير قال: قال رسول الله (صلى الله عليه وآله وسلم): «أَلاَ إِنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ، فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَمَالأَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَلَيْسَ مِنِّي، وَلاَ أَنَا مِنْهُ. وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَلَمْ يُمَالِئْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَهُوَ مِنِّي، وَأَنَا مِنْهُ» (رواه أحمد)

Dari Nu’man bin basyar berkata : Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “akan datang setelahku para pemimpin yang berbohong dan bersikap dzalim pada rakyatnya, maka barang siapa yang membenarkan kebohongannya dan membantunya kedzalimannya maka ia bukan umatku dan aku bukan bagian darinya, dan barang siapa yang tidak membenarkan kebohongannya dan tidak membantunya(dalam berbuat dzalim) maka dia itulah umatku dan aku bagian darinya”.(HR Ahmad).
Dan kejahatan pemimpin juga kejahatan negara. Yaitu ketika negara tidak memberikan hak-hak rakyat sesuai Syara’. Akhirnya timbullah kudeta dari rakyat karena kedzalimannya, eksesnya negara melemah lalu jatuh dalam waktu singkat.
Lalu dari segi kebohongan penguasa artinya ketika negara dan pejabat itu dalam kebijakan politiknya banyak pengelabuan, tidak nyata dampaknya, membodohi rakyat kemudian suatu saat terbongkar kebusukannya. Maka cepat atau lambat negara itu juga akan jatuh.
Kedzaliman dan kebohongan penguasa jika ada dan berkumpul jadi satu dalam satu negara maka kedua hal itu akan menyesatkan dan mencerabut kepercayaan umat pada negaranya. Dan itu akan diikuti dengan tercerai-beraikannya para Ahlu quwwah(pihak militer), Ahlu ‘ilmi(cendikiawan) dari negara. Lalu dengan sendirinya negara itu menjadi negara gagal, melemah tak punya kekuatan yang nyata(mandiri) kecuali hanya bersandar pada kekuatan dari luar. Dan kekuatan dari luar itupun tidak akan bertahan lama dan sedikit demi sedikit daya tahan tahan negara itu akan bergantung sepenuhnya pada asing dan pada kekuatan terakhir sisa-sisa.
2. perselisihan dan perpecahan umat.
قال تعالى: (وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ)
Allah berfirman : Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(Qs : Al Anfal : 46)
وقال (صلى الله عليه وآله وسلم): «مَنْ بَايَعَ إِمَامًا، فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ، فَلْيُطِعْهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ، فَاضْرِبُوا عُنُقَ الآخَرِ» (رواه أحمد)
Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “barang siapa yang telah membaiat pemimpin(imam) maka dia telah berikan kedua tangan dan hatinya, maka taatilah ia dan apabila datang kepadanya pemimpin(imam) lain maka penggalah lehernya.(HR Ahmad)
وقال (صلى الله عليه وآله وسلم) أيضاً: «مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ، وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ» (رواه ابن حبان).
Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam juga bersabda : barang siapa yang keluar dari ketaatan(memberontak) dan berpaling dari jama’ah( kepemimpinan umat bersama) maka matinya mati dalam keadaan jahiliyyah.(HR Ibnu Hibban)
Telah dijelaskan bahwasanya berpisah(berontak) dan keluar dari bai’at Imam (pimpinan kaum muslimin) yang pertama atau imam yang adil yaitu imam yang dibaiat dengan baiat yang sah sesuai syariah hal itu masuk dalam kategori meninggalkan jama’ah(kepemimpinan umat bersama). Dan keluar dari jamaah itu akan menyebabkan suatu negara mengalami kegagalan. Dan ini terjadi ketika daulah Khilafah Utsmaniyah yang dulunya satu sekarang runtuh dan terpecah jadi banyak negara akibat dari keluarnya mereka dari jamaah(daulah Khilafah Utsmaniyah).
3. seruan fanatisme seperti, nasionalisme, suku dan ras, fanatisme kelompok
قال عليه الصلاة والسلام: «وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ، أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً، فَقُتِلَ، فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ، وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي، يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا، وَلا يَتَحَاشَى مِنْ مُؤْمِنِهَا، وَلا يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ، فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ» (رواه مسلم(.
Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : barang siapa yang berperang dibawah panji fanatisme dan berseteru karena fanatisme, atau menyeru pada fanatisme golongan, atau membantu fanatisme, kemudian ia mati karenanya maka ia mati mati Jahiliyah dan barang siapa dari umatku (rosulullah)yang menentukan nasib umat baik dan buruknya dan ia tidak malu pada umat yang telah memberinya amanah kepemimpinan. Dan ia tidak memberi hak orang yang berhak menerima, maka ia bukan umatku dan aku bukan bagian darinya.(HR Muslim).
maka dari itu, berperang dibawah panji fanatisme nasionalisme yang dibenci oleh islam, yang batil serta sempit dan berjuang karena fanatisme suku yang hanya menyisakan pertumpahan darah merupakan dosa besar dilihat dari segi pembunuhan yang dilakukan dengan alasan fanatisme golongan bukan untuk meninggikan kalimat Allah dimuka bumi, begitu juga menyeru dan memberikan pertolongan pada nasionalisme juga merupakan dosa besar. Dan ini cocok pada penguasa sekarang yang –seperti hadist yang disebutkan tadi- bahwa penguasa sekarang tidak malu pada rakyat yang memberinya kepercayaan(tampuk kepemimpinan) padanya dan dia juga tidak menepati janji(memberikan haknya pada yang berhak) persis dan terbukti sekarang, seperti yang dilakukan oleh negara pengemban nasionalisme yang memenjarakan para pengemban dakwah dan menyematkan nama terorispada para mujahidin.
Dan yang paling tampak pada zaman sekarang adanya kebencian yang dalam dari penguasa pada pengemban dakwah dan dienul islam. Persis dengan apa yang disabdakan rosulullah Shallallahu alaihi wasallam:

«وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ» (رواه مسلم)
Seburuk-buruk pemimpin adalah pemimpin yang kalian benci dan mereka membenci kalian dan kalian mengutuk perbuatannya seperti mereka mengutuk perbuatan anda.(HR Muslim).

4. tidak adanya koreksi kepada penguasa
إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابِهِ» (رواه أحمد)،
Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “jika manusia melihat satu orang saja berbuat dzalim dan Mereka diam saja(tidak mencegahnya) maka hampir saja Allah meratakan Adzabnya keseluruh kaum tersebut”.(Hr Ahmad)
«مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا، ثُمَّ لا يُغَيِّرُوا، إِلا يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ»
Diriwayat yang lain, Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :”jika suatu kaum didalamnya ada kemaksiatan, lalu mereka(kaum tersebut) mampu mengubahnya tapi dia tidak enggan mengubahnya maka hampir-hampir saja Allah menimpakan seluruh adzabnya keseluruh kaum tersebut.”(HR Abu Dawud)
Dan Abu bakar asShiddiq radhiyallahu ‘anhu Khalifah pertama pengganti Rosul pernah menerapkan hadist ini pada masa kepemimpinannya yakni ketika beliau berada diatas mimbar, beliau menyuruh rakyatnya untuk mengevaluasi kinerjanya, mengkritik rakyat mengadukan nasibnya, meminta hak-haknya, dan aktivitas muhasabah untuk penguasa, dan ini juga diteruskan oleh khalifah-khalifah sesudahnya(khulafaurrosyidin) sampai-sampai hal itu menjadi kebiasaan pada zaman itu.
Maka dari itu, dengan tidak adanya koreksi ke penguasa atau memang penguasa itu tidak menghendakinya juga tidak adanya upaya amar ma’ruf nahi munkar maka–dengan sendirinya- kesalahan ini menjadi serpihan kecil awal dari kegagalan suatu negara dan keguncangannya. Selanjutnya, hal itu membuat penguasa -dan kroni-kroninya yang busuk- menjadi pendikte, penggenggam kekuasaan yang dzalim yang menindas rakyatnya seperti sampah.
Dan keempat indikator tadi oleh rosulullah Shallallahu alaihi wasallam disabdakan dalam hadistnya :
إِنَّ أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ (سنن الدارمي)
“Sesungguhnya hal yang paling kutakuti (dari apa-apa yang kutakuti) akan menimpa kalian umatku adalah penguasa yang menyesatkan”.(Sunan adDaarimy)
Dan hadist ini telah mencakup seluruh sifat yang dimiliki penguasa diseluruh dunia yang menjadikan negaranya sendiri menjadi negara gagal seperti juga negara-negara di negeri kaum muslimin. Jadi, yang dimaksud penguasa yang menyesatkan adalah mereka yang dzalim dan membohongi rakyat, yang keluar dari tatanan Syariah, yang menyeru pada fanatisme(nasionalisme, kesukuan, kejahiliyahan)lalu berperang dibawah panji fanatisme, dan yang tidak mau dikoreksi oleh rakyatnya atas kebodohannya, kesalahannya dan seluruh perbuatan kejinya.
Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam mensifati penguasa seperti itu dalam sabdanya :
«يَكُونُ أُمَرَاءُ تَلِينُ لَهُمُ الْجُلُودُ وَتَطْمَئِنُّ إِلَيْهِمُ الْقُلُوبُ، وَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ تَشْمَئِزُّ مِنْهُمُ الْقُلُوبُ وَتَقْشَعِرُّ مِنْهُمُ الْجُلُودُ، قَالُوا: أَفَلا نَقْتُلُهُمْ؟ قَالَ: لا مَا أَقَامُوا الصَّلاةَ» (رواه أحمد )

“akan datang para pemimpin yang lembut bagi kaumnya dan menentramkan hatinya(akibat kebaikannya) dan juga akan datang kepada kalian para penguasa yang bengis hatinya dan membuat kulit kalian menggigil ketakutan(akibat kedzalimannya). mereka berkata :”apakah kita harus membunuhnya(jika ada penguasa seperti itu ?”, jangan, selama ia masih mendirikan sholat”.(Hr Ahmad)
Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menghubungkan antara kedzaliman penguasa, kerusakan ulama’ dan ahli bid’ah. Dari Ziyad bin khudair : Umar berkata kepadaku : Apakah kau tahu apa yang menyebabkan Islam hancur ? tidak, aku tidak tahu. Umar berkata lagi : “yang menghancurkan Islam adalah terpelesetnya lidah orang berilmu, orang munafik yang membantah AlQuran, dan Aimmah(penguasa-penguasa) yang menyesatkan.(Atsar riwayat Ad Darimy)
Kerusakan penguasa bermakna kerusakan negara dan kegagalannya. Karena negara tergantung siapa penguasanya. Jadi sifat penguasa dicerminkan oleh negaranya. Dan para shahabat, tabi’in dan ulama’ memahami hal ini dengan baik, yaitu, dengan adanya Atsar dari Jibrity dalam kitab ” ‘ajaibi alAtsar” dia berkata : “suatu kali Muawiyah Al Ahnaf bin Qoisy bertanya ? Apakah Zaman itu ? dia menjawab : “Engkau, Wahai Muawiyah adalah Zaman itu. Jika Engkau berbuat kebaikan diwaktu kau berkuasa maka zaman pun akan menjadi baik. Tetapi jika berbuat kerusakan, rusaklah zaman itu.”
Juga seperti yang dikeluarkan dari Ibnu Asakir dari Bakar Al Abid, ” telah berkata Sufyan AtTsaury kepada Abu Ja’far Al Mansur (penguasa saat itu): “aku tahu bahwa ada satu orang jika dia baik maka umat pun jadi baik !”, Siapakah dia ? “Tanya Abu Ja’far Al Mansur”, Engkau, “Jawabnya”.
Dan dari Riwayat Imam Bukhari rahimahullah dari Marwan bin Qoisy bahwa di(Marwan) telah mendengar dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Umat akan terus menerus dalam keadaan baik selama pemimpinya pun juga”.
Inilah indikator-indikator negara gagal menurut pandangan islam yang shahih bisa kami ambil dari sumber hukum yang Qath’iy berdasarkan sumber hukum Syara’ yang sesuai dengan fitrah manusia.
Dimana dengan indikator itu kita bisa kerucutkan bahwa seluruh negara didunia ini adalah negara yang gagal, yang tak mampu membuat rakyat bahagia, walaupun sebagian darinya memiliki kekuatan dan kemajuan.

Sumber : www.al Waie.org(edisi arab)
Diterjemahkan oleh Anas Irul
Info terjemahan selengkapnya kunjungi : www.diskusiarab.wordpress.com

tahun keenam penjajahan Irak, AS rugi besar

TAHUN KEENAM PENJAJAHAN ATAS IRAK, AS RUGI BESAR

Sejak enam tahun menjajah irak (sebelumnya menjajah afghanistan dan sampai sekarang) invasi AS itu masih melekat erat dalam pikiran warga irak bahkan dunia. Para korban berjatuhan semakin bertambah mencapai lebih dari jutaan orang pertahun (menurut survey dari lembaga opinion and research) terdapat 2,3 juta penduduk irak mengungsi dan 2,3 penduduk disekitarnya yang juga mengungsi (sumber :P BB) Ada sekitar dua juta janda (menurut laporan Irak oleh Kementerian Perencanaan dan pertengahan 2007). Dan meningkatnya angka gizi buruk di kalangan anak-anak dari angka 19% pada periode sanksi PBB sebelum invasi (masa Clinton) dan menjadi 28% di bawah pemerintahan Bush (menurut laporan Oxfam dikeluarkan pada bulan Juli tahun 2007) dan sekitar 350 ilmuwan nuklir dan lebih dari 200 profesor dan ilmuwan diberbagai universitas dibunuh oleh Mossad (Israel) bekerjasama dengan pasukan Amerika Serikat (seperti dilaporkan oleh The New «bukti baru»10/12/2007. Menurut laporan Oxfam disebutkan bahwa tingkat pengangguran warga irak mencapai 60% dan 70%. Dan 43% warganya juga dinyatakan hidup dengan penghasilan kurang dari satu dolar per hari.
Semua mengetahui bahwa Negara Irak adalah ranah politik yang penting bagi dunia islam secara aliran, etnis, dan madzhab. Dan setelah Amerika mampu dalam menyalakan api fitnah perselisihan diantara madzhab dan kemudian dengan menghancurkan pusat pusat keagamaan dengan cara menculik, membunuh, menyiksa dan membuang orang-orang yang ada disitu … maka aliran itupun terpecah dan berselisih, saling membalas. Dan halini terlihat jelas bagaimana para pelaku aksi itu (tentaraAS) terang – terangan melakukan aksi brutal. Warga irak dijadikan mainan dan diperlakukan kejam, menyengsarakan mereka dengan penderitaan yang tak tiada tara. Tidak cukup itu ditambah AS juga menggunakan senjata terlarang internasional. Kemudian juga banyak terjadi penangkapan dan penyiksaan seperti apa yang terjadi di penjara Abu Ghuraib yang oleh dunia internasial dinyatakan skandal terbesar abad ini ( seperti yang terjadi juga di guantanamo dan baghram … ) …..
Adapun untuk pertanian, industri, minyak, listrik, fasilitas air, jalan, jembatan, pos dan komunikasi, dan rumah sakit tidak dipermasalahkan …. karena itu sudah dikuasai urusan hanya dengan slogan menyebarkan demokrasi, liberalisme, War of terorisme, dan menghapus kedzaliman. Dengan mengutus agen-agen komprador pengkhianat bagi warganya untuk menempati posisi vital bagi kaum muslimin. Dengannya AS memecah-belah. Dan dengannya pula AS ingin terus melanjutka dominasinya disana dan dengannya pula AS ingin langgeng menjajah. Akan tetapi hal ini jika dibawa kedunia internasional irak disebut sebagai contoh negara yang sedang menjalani proses demokratisasi ya dengan demokrasi -sebuah kebudayaan(hadharah) barat yang rusak, dzalim dan tegak tanpa asas lain kecuali materi dan materi- sebagai alsan AS untuk menlanjutkan dominasinya di Irak dan dunia islam lainnya.
Karena kejahatan perang itulah, Bush dapat dimasukkan dalam daftar penguasa yang paling sering menjajah. Tetapi, penjajahan sebenarnya tidak akan terjadi tanpa persetujuan dari anggota konggres amerika yang telah memberi lampu hijau untuk menjajah irak. Dan rakyat amerika sebenarnya menolak itu tapi -oleh penguasanya- mereka dibuat tak berdaya dengan keputusan perang itu. Mereka layaknya domba digiring dan dipotong mereka tidak pernah memilih atau menolak karena memang dari awal tak diberi pilihan, akhirnya karena perang gagal, ekonomi, dan taraf hidupnya hancur menjadi tumbal penjajahan amerika pada irak, rakyat Amerika sendiri begitu menderita psikologisnya, hak kemanusiaannya, angkatan perangnya, kebijakannya dan diatas itu semua AS telah jatuh, sampai ada ungkapan keheranan, “siapa sesungguhnya yang telah jatuh ? Baghdad atau Washington ?”
– dari segi kerugian manusia : korban dari amerika mencapai 4.260 prajurit dan 32 ribu (menurut statistik Pentagon) di tingkat studi independen korban meninggal mencapai sekitar 28 ribu orang. Sedangkan luka-luka –mereka tidak dapat perawatan yang cukup mencapai- 48733 ribu jiwa (menurut studi oleh Pusat veteran Amerika di kota Mrzintao di tahun2007).
– Adapun kerugian secara psikologis : -di pusat studi yang sama- 12.422 pasukan mengalami tekanan psikologis parah. Dalam beberapa kasus mental dan stress berdampak berbahaya bagi keluarga korban. Mereka menderita perasaan tertekan, depresi, halusinasi, mimpi buruk, imsonia, dan gejala negatif lainnya. Sebuah studi oleh para peneliti di University of California, diterbitkan hasil pada kuartal C 12/03/2007 pemulangan tentara AS dari Irak dan Afghanistan mengalami stress berat. Dan lebih dari setengah dari mereka menderita lebih parah dari sekedar stress. Seperti, bunuh diri, menurut studi yang disebutkan oleh militer AS bahwa jumlah tentara yang bunuh diri dalam satu tahun adalah 121 prajurit. Dan yang melakukan percobaan bunuh diri sampai pada angka 2100 jiwa.
. – Dampak bagi keuangan : dalam buku yang diterbitkan di Amerika Serikat pada 2008 karya pemenang Nobel Joseph Stiglitz dari sisi ekonomi, penjajahan di Irak memakan biaya sedikitnya 3 triliun dolar dan hutang itu baru bisa lunas tahun 2017. Ini adalah rahasia, bahwa krisis keuangan global yang menimpa Amerika Serikat adalah salah satu buah dari kegagalan Amerika pada perang melawan umat Islam di mana-mana. Dan ini mengakibatkan hilangnya kekuatan dolar –kalo dulu menentukan kurs- sekarang giliran dolar ditentukan mata uang lain.
– efek dari kemiliteran : tidak terpenuhinya kebutuhan sekitar 30 % militerbaru selama 6 bulan, penurunan standart aktivitas kemiliteran, dan terakhir muncul surat perintah untuk menghentikan pengiriman tentara karena ketidakmampuan, mulai dari aspek dana juga karena lemahnya mental prajurit, kebugaran fisik atau kinerja yang buruk, atau karena beban berat, penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan. Selain itu, Amerika juga banyak keluar dana karena terus meningkatnya korban meninggal dan luka-luka, dan aking stressnya tercatat bahwa terdapat 5.500 pasukan lari meninggalkan kamp. Oleh karena itu, AS kekurangan pasukan (menurut laporan yang diterbitkan oleh American Institute of Policy Studies). Karena efekdahsyat itu dibubarkanlah perjanjian internasional koalisi militer untuk membantu invasi AS ke Irak yang semula beranggotakan 31 negara sekarang hanya tinggal 4 saja yang mendukung sampai-sampai muncul pernyataan dari pemimpin militer amerika yang menyatakan bahwa AS tidak sanggup Berperang apalagi perang baru sekarang.
– Dari segi strategis : Kegagalan di Amerika Serikat di Irak (dan Afghanistan) meruntuhkan kekuatan politiknya di mata internasional. Dan menggagalkan seluruh rencananya untuk memonopoli dunia. Dan ini menjadikan negara-negara lain berani untuk bersaing dengan AS dan memperkuat posisi tawarnya di mata AS seperti negara-negara di Afrika, Asia Tengah dan Amerika Latin … Dan sekarang AS dalam dilema, hal ini diungkapkan oleh mantan Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan, “Amerika Serikat dalam dilemma, mereka tidak dapat tetap( menjajah Irak ) tapi juga tidak dapat menarik diri(dari Irak).
- dan dari segi runtuhnya peradaban Amerika : Ini adalah yang paling vital dan berat, adalah semakin terungkapnya kebusukan ideologi kapitalisme dan ideologi ini sama sekali tidak berguna walaupun mengunakan berbagai macam cara, misalnya : pertumpahan darah maupun konspirasi. Bahkan karena Kapitalismenya, seluruh dunia menanggung resiko sebagai akibat dari perang biadab ini, yaitu krisis ekonomi dahsyat, yang bahkan dedengkotnya yaitu kapitalis Barat tidak memiliki solusi untuk keluar dari krisis. Ini adalah kerugian yang teramat sangat besar bagi dunia. Maka kapitalisme sekarang berada di tepi jurang kehancuran. Dan karena kapitalisme gagal, negara-negara didunia berusaha untuk keluar darinya dan juga keluar dari krisis dengan mencari solusi alternatif.
- Yang paradoks dalam konflik internasional ini bahwa Islam muncul dengan sendirinya sebagai solusi tunggal atas krisis. Berkebalikan dengan Barat yang tidak dapat menghentikannya. Hal ini karena barat tidak memiliki solusi yang lain kecuali kekuatan materi, ide dasar, standar hidup dan perundang-undangannya yang bobrok. Dan materialisme ini tidak bermanfaat bagi kaum muslimin, justru hal itu membuat mereka sadar bahwa kapitalisme adalah inti kesalahan dan ini menjadikan mereka segera bangun menuju kenyataan, kenyataan bobroknya kafir Barat, kenyataan sejauh mana permusuhan mereka kepada islam dan kaum muslimin. Dan ini membuat kaum muslimin sadar akan pentingnya menegakkan islam dalam kehidupan, lalu mereka segera kembali lagi meminta untuk dipimpin dengan Syariah, yang dengannya Islam memimpin seluruh dunia dengan Syariah yang kokoh. Sejenak, peristiwa ini membuat kita teringat hadist Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
yang berbunyi :

«… إن هذا الدين متين، ومن يشادّه فإنه يغلبه
«… Ini adalah agama yang kuat(kokoh), maka siapa yang menyempitkannya sungguh dia yang akan dikalahkannya(oleh islam ) ».

Bush, ketika dia mengumumkan perang pada terorisme, terosrisme global, yaitu perang kepada islam, sebenarnya dia mengakui dan tahu tentang keuniversalan Islam dan paham bahwa islam punya Hadharah(budaya) yang mendunia, yang akan bias menyebar ke seluruh dunia. Sehingga dia mau mencegahnya dengan terus menerus mengepung islam, dan mencegah berdirinya Khilafah (yang ia sebutkan dalam pidatonya lebih dari sekali), dimana ia gambarkan khilafah itu sebagai «kepemimpinan global». Dan perang yang ia lakukan sekarang adalah bentuk pencegahan munculnya Islam kedalam pentas internasional, dan untuk mewujudkan ambisi itu dia ingin menghancurkan benih-benih munculnya Islam sebelumislam bangkit.
Barat -dalam perangnya melawan Islam- terus menerus berharap, berharap agar kaum muslimin tidak dapat menegakkan Khilafah. Oleh karena itu, kaum muslimin kedepannya harus bersikap berkebalikan dari barat yaitu terus menerus bergerak untuk menyambut pertolongan Allah (Nashrullah) dan untuk menggapai pertolongan dari Allah tidak bisa tidak tergantung dengan sejauh mana ketaatan kaum muslimin pada Allah dan RosulNya. Juga berhubungan dengan bagaimana kita menjalani metode rosulullah dalam menegakkan Daulah Islamiyah.dan juga kesadaran bahwa mereka tidak akan pernah berhasil keluar dari kubangan penderitaan yang dibuat barat kecuali dengan melepaskan diri dari para penguasa budak kapitalis.
Cara untuk melepaskan diri dari pemerintah(budak AS) semacam itu adalah memutus kesetiaan militer(ahlu Nushroh/ahlul quwwah) dari pemerintah. Dan itu hanya terjadi jika ada umat dalam 3 keadaan :

- umat menginginkan diterapkannya hukum islam dan ini sudah mulai terbukti keinginan itu muncul dimana-mana.
- Ada partai yang mampu menyatukan perasaan umat untuk menegakkan Khilafah Rosyidah dan ini juga nyata dan mulai bermunculan dimana-mana.
- Adanya Penolong Allah (kaum anshor) seperti kalangan militer(ahlul Quwwah). Dan yang mereka lakukan persis dengan apa yang dilakukan kaum Anshor saat menolong dakwah Rosulullah untuk mendirikan Daulah Islamiyah yang berhukum pada Al Qur’an dan Sunnah dan yang dengan Daulah itu, Islam dibawa sebagai Risalah dan hidayah bagi semesta Alam dengan dakwah dan jihad. Hanya dengan itulah umat dapat kembali sejahtera. Dan sesungguhnya umat sekarang sedang menunggu Anda Wahai Ahlul Quwwah untuk menolong mereka demi perubahan menuju Khilafah.

(وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ، بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ )
Artinya :”Dan di hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman, Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang”. ( Ar Ruum : 4-5 )

Sumber : www.al Waie.org(edisi arab)
Diterjemahkan oleh Anas Irul
Info terjemahan selengkapnya kunjungi : www.diskusiarab.wordpress.com

Arab Saudi Berusaha Keras Mengkaburkan Pengertian Ayat-Ayat Jihad dari Buku-Buku Pelajaran Sekolah

Pemerintah Arab Saudi sejak tahun 2005 telah berusaha meski dengan metodologi yang lambat namun pasti untuk menciptakan perubahan yang mendasar di dalam buku-buku pelajaran yang sesuai dengan permemintaan Amerika Serikat yang bersikeras untuk menghapus semua konsep Islam yang benar.
Menurut para pengamat dan analis: “Sesungguhnya berbagai usaha reformasi dalam pemerintahan menghadapi perlawanan, khususnya terkait usaha untuk mengubah buku-buku pelajaran yang dilakukan karena permintaan asing. Sebagai akibatnya, berbagai perubahan yang dilakukan selama ini untuk hal-hal yang berhubungan dengan jihad, dan hubungan kaum Muslim dengan non-muslim belum memuaskan—seperti yang diinginkan Barat”.
Dwight Bashir, analis politik senior di kedutaaan Amerika untuk kebebasan beragama di dunia, dan pada tahun 2007 pernah berkunjung ke kekedutaan Amerika di Arab Saudi mengeluarkan laporan tentang buku-buku pelajaran sekolah Saudi. Dia berkata: “Kami sangat prihatin terhadap buku-buku ini, dimana di dalamnya berisi penjelasan yang sangat konservatif, serta berisi pemahaman dan pandangan yang sempit terhadap Islam yang mendorong untuk tidak toleran”. Dia menambahkan: “Beberapa ayat al-Quran perlu diinterpretasikan ulang sehingga tidak terkesan bahwa ayat-ayat itu mendorong kekerasan”. Dalam hal ini, dia merujuk kepada ayat-ayat jihad.
Di sisi lain, para guru di sekolah Saudi menolak untuk memperkenalkan perubahan yang mencurigakan ini di sekolah-sekolah, bahkan mereka menunjukkan ketidaksenangan (penolakan). Salah seorang guru sekolah Islam di Arab Saudi berkata: “Apa yang terjadi adalah kezaliman terhadap Islam. Mereka mengganti prinsip-prinsip Islam dan memberikan sesuatu dengan metode yang salah”.
Demikianlah, persekongkolan Raja Abdullah dan segelintir orang-orang murtad yang ada di sekitarnya dengan Amerika dan Barat dalam upaya memerangi Islam dan menghapus ayat-ayat jihad. Akan tetapi, umat Islam di semenanjung jazirah Arab masih mampu menghadapi persekongkolan yang keji dan kotor ini, serta mampu menghentikan ambisi Amerika dan Keluarga Saud. (kantor berita HT).

Amalan Sunnah Menuju Surga : Memberikan Pinjaman, Membebaskan Hutang, dan Memberi Makan dan Minum Makhluk Bernyawa

Memberikan Pinjaman (al-Qardlu)

Berdasarkan hadits Abdullah bin Mas’ud, riwayat Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Baihaqi sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُقْرِضُ مُسْلِمًا قَرْضًا مَرَّتَيْنِ إِلاَّ كَانَ كَصَدَقَتِهَا مَرَّةً»

“Seorang muslim yang memberikan pinjaman dua kali kepada muslim yang lain, sama dengan bershadaqah satu kali.”

Menangguhkan dan Membebaskan Hutang dari Orang yang Kesulitan untuk Membayarnya

Berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Huzaifah, ia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda:

«إِنَّ رَجُلاً مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَتَاهُ مَلَكٌ لِيَقْبِضَ نَفْسَهُ فَقَالَ لَهُ هَلْ عَمِلْتَ مِنْ خَيْرٍ فَقَالَ مَا أَعْلَمُ قِيلَ لَهُ انْظُرْ قَالَ مَا أَعْلَمُ شَيْئًا غَيْرَ أَنِّي كُنْتُ أُبَايِعُ النَّاسَ وَأُجَازِفُهُمْ فَأُنْظِرُ الْمُعْسِرَ وَأَتَجَاوَزُ عَنْ الْمُوسِرِ فَأَدْخَلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الْجَنَّةَ»

“Sesungguhnya ada seseorang dari umat sebelum kalian telah didatangi Malaikat untuk dicabut nyawanya. Maka malaikat berkata: Apakah engkau pernah melakukan kebaikan? Orang tersebut berkata: Aku tidak tahu. Malaikat berkata: Berfikirlah engkau! Kemudian ia berkata: Aku tidak mengetahui sedikitpun perbuatan baik yang pernah aku lakukan. Hanya saja aku dulu pernah bertransaksi dengan seseorang di dunia. Kemudian aku menangguhkan dari orang yang punya dan membebaskan dari yang tidak punya.” Rasul bersabda: “Akhirnya Allah memasukkannya ke surga.” Abu Mas’ud berkata: aku mendengar Beliau saw. mengatakan hal itu.

Memberi Makanan
Berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Abdullah bin Amru, ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw., “Islam yang manakah yang paling baik?” Rasulullah saw. bersabda:

«تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ»

“Memberikan makanan, mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal.”

Memberi Minum kepada Setiap yang Bernyawa
Berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

«بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنْ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ بِي فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا فَقَالَ نَعَمْ فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ»

“Dulu ada seorang lelaki berjalan di jalanan yang sangat panas, kemudian ia menemukan sumur. Ia pun turun ke dalamnya untuk minum, lalu keluar. Tiba-tiba ada seekor anjing yang menjulurkan lidah dan memakan liur karena kehausa. Orang itu berkata: Anjing ini telah kehausan seperti aku. Kemudian ia turun ke sumur dan mengisi sepatunya dengan air, lalu ia gigit hingga naik ke atas sumur dan memberikan minum kepada anjing itu. Maka Allah pun bersyukur kepada orang tersebut dan mengampuninya. Para shahabat berkata: Apakah pada hewan ada pahala bagi kita? Rasulullah saw. bersabda: Pada setiap perut yang basah (makhluk hidup) terdapat pahala.”

(Dari buku : Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah aIslamiyah , Hizbut Tahrir )

kesabaran

الصَّبْر

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ()
وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ () وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ () أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ()[البقرة 153-157]
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. ( QS Al Baqarah : 153 – 157 )

Faedah dari kesabaran adalah :

Kita harus berhenti sejenak di sini dan mentadabburi arti sabar untuk menghapus kesalah-kaprahan dari beberapa umat Islam tentang realitas sabar dan peletakannya.
Beberapa orang berpikir bahwa jika dia selalu menyendiri dan ber “Uzlah” dari masyarakat dan membiarkan kemungkaran,baik ia sendiri atau dengan keluarganya juga. Dan ia juga melihat berbagai keharaman meraja lela, hukum Allah diabaikan, perintah jihad dihapus, dan ia tak melakukan aktivitas apapun untuk melawannya dan justru menjauhi hal itu. Beberapa orang berpikir dia itu telah bertindak sabar.
Atau kesabaran itu dipahami dengan cara pasrah terhadap penderitaan yang menimpa dan menjauhi pertentangan dengan musuh Allah dan tidak berani berkata kepada mereka apa yang Hak atau berbuat sesuatu ( untuk melawan ) dengan cara yang diridhoi Allah. Dan hanya diam terpakusaja dan mengatakan bahwa dia sendiri sudah menjadi orang sabar.
Sungguh bukan kesabarab seperti inilah yang dimaksudkan Allah menyiapkan bagi surga yang penuh kenikmatan. Allah berfirman :

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ (الزمر :10)
Artinya :
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”.(QS Az Zumar : 10 )
justru sabar seperti itu malah sebuah kelemahan ( al ‘Ajzu ), yang Rasul Allah berlindung darinya, : “Ya Allah lindungilah aku dari kelemahan ( al ‘Ajzu ) dan malas dan sikap pengecut dan kikir dan penderitaan dan kesedihan dan jratan hutang dan tindakan semena-mena”(Bukhari dan Muslim).
Kesabaran yang benar adalah menyuarakan Haq ( kebenaran ) dan berbuat yg benar, dan siap menanggung resiko dalam berjuang dijalan Allah, istiqomah ( tidak menyimpang ), tidak melemah apalagi menjadi lembek..
Kesabaran adalah sebuah derajat yang Allah sertakan setelah taqwa.
إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ( يوسف : 90)
Artinya :”Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”
( Qs : yusuf : 90 )
Kesabaran adalah apa yang Allah gandengkan dengan orang yang berjihad di jalanNYa.
وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ( ال عمران : 146 )
Aritnya : “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar”.
kesabaran ialah sabar terhadap ujian dan qadha yang ditentukan, yang sejatinya mengharuskan kita untuk tsabat ( tetap teguh ) bukan malah gentar dan juga menuntun kita untuk semakin berpegang teguh pada kitabullah dan bukan malah mengacuhkannya dengan alasan pasrah pada keadaan serta menjadikan kita selalu mendekatkan dan mengeratkan hubungan kita dengan Allah bukan malah menjauh dariNya.
فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”(Qs Al Anbiya’ : 87 )
Kesabaran itu sesuatu yang menajamkan himmah ( cita-cita ) dan mendekatkan kepada jalan menuju surga. Seperti kesabaran dari Bilal, Khabab, dan keluarga Yasir. ” Sabarlah wahai keluarga Yasir sesungguhnya tempat kalian (yang dijanjikan Allah )ialah surga”.
Kesabaran khubaib dan Zaid (Demi Allah saya tidak pernah rela ketika Nabi Muhammad yang sedang berada di suatu tempat dan beliau tertusuk duri sedang saya diam duduk bersama keluargaku ).

Kesabaran dalam mencegah kedzaliman tanpa takut caci orang yang suka mencaci semata karena Allah “sekali kali tidak, Demi Allah kalian memang akan mencegah kedzaliman tetapi kalian akan segera melenceng ( karena tidak sanggup) dan menyerah atau kalian akan berselisih satu samala lain dan Allah akan melaknat kalian seperti mereka melaknat bani israil )
kesabaran para sahabat Rosulullah, para utusan, dan para sahabat yang mengungsi kehabasyah dan dikejar-kejar kaum kafir quroisy hanya karena mengatakan tuhan kami Allah.
Kesabaran kaum muhajirin dan Anshor ketika berjihad melawan orang musyrik, Persia dan Romawi… Kesabaran tahanan kaum Abdullah bin Abu hudafah … Dan dengan kesabaran Mujahidin yang jujur dan beriman.
Kesabaran untuk beramar ma’ruf nahi munkar dan tidak melemah terhadap segala derita dalam berjuang di jalan Allah.
Kesabaran ketika menjadi seorang tentara Islam untuk melawan musuh Allah.

Kesabaran adalah apa yang ada difirman Allah :
لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Artinya : “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan”.(QS : ali Imron : 186 )
Juga dalam surat Muhammad
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ
Artinya : Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu”.(Qs Muhammad : 31 )
dan kemudian
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ، الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Artinya : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”

Disarikan dari kitab : AtTaysir fii Ushuli atTafsir
karangan : Aalim fi Al Ushul AsSyaikh Atho’ bin Kholil abu Rustah
Amir Hizbut Tahrir hafidhohullah

beratnya tsiqoh dalam keimanan

Su’ubatul za’za’ati tsiqoh fii jawwil iiman
صعوبة زعزة الثقة في جو الايمان
(Beratnya keteguhan di dalam keimanan)

Ditulis : Ir, Naasher(Syabab Hizb Palestina)

Pada saat ini kaum muslimin telah banyak menghadapi berbagai macam hal yang dapat mengganggu ketsiqohannya (keteguhan) dalam menjalankan islam, ide-ide Islam dan hukum-hukum Islam, misalnya : upaya Tasykik (upaya menimbulkan keraguan dalam agama dalam benak umatnya) yang dilakukan oleh Yahudi, Nashrani, kafir quroisy dan orang-orang munafik. Dan pengaburan (Taskyik) seperti ini sebenarnya telah terjadi sejak zaman Rosullullah. Kala itu mereka melakukan Tasykik terhadap otentitas Al Quran dan Sunnah. Dan Al Quran telah mengatakan kepada mereka, Rosul telah mendebat mereka untuk meyakinkan bahwa agama Islam adalah agama yang benar (Haq) tetapi mereka tetap pada kekufuran dan pembangkangannya.
Sungguh, perang antara Haq dan Batil, antara Islam dan Kekufuran telah terjadi dan akan terus terjadi. Oleh karena itu, Musuh-musuh Allah itu selalu menuangkan keragu-raguan untuk menggoyang keimanan dan ketsiqohan pengemban dakwah dalam menjalankan islam dan beban dakwah. Dan Al Quran pun telah menggambarkan di banyak ayatnya kepada kita tentang hal ini. Dan hari ini, memang benar pengemban dakwah dihadapkan kepada berbagai rintangan dari orang kafir beserta antek-anteknya, pemerintah tiran, media-media kafir, dan gerakan, LSM, serta lembaga yang menyudutkan islam. Dan itu semua dapat menggoyahkan ketsiqohan dakwah dan kutlah(kelompok)nya. Tapi perlu diketahui bahwa yang seperti ini juga dihadapi oleh Rosulullah dan para sahabat dimanapun dan kapanpun. Nah, salah satu cara mereka ialah -seperti yang dijelaskan di dalam Sirah- bahwa mereka menggunakan peristiwa berubahnya arah kiblat –yang memang diakui sebagai peristiwa yang mengikat dan menperkuat azzam(ketetapan hati) dan tsiqohnya adalah peristiwa berubahnya arah kiblat- sebagai alat untuk menyerang dan menggoyahkan kaum muslimin. Orang orang Yahudi saat itu mengolok-olok Rosulullah dan Shahabat, ” bagaimana kiblat Muhammad itu, tidak jelas rupanya, dan sekarang mereka sedang kebingungan (menentukan arah kiblatnya). . . “. Tapi kemudian hal itu langsung dibantah keras oleh Allah Ta’ala dalam firmanNya:
“Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus” ( ) Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia ( ) Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan ( ) Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu -kalau begitu- termasuk golongan orang-orang yang zalim ( ) (Qs Al Baqoroh : 142-145)
Di dalam ayat tersebut, bangsa yahudi berusaha menggoyahkan keimanan Rosulullah, Maka Allah Ta’ala membalas mereka dengan menyebut mereka orang- orang bodoh (sufahaa’) dan mengikat ayat itu dengan ayat setelahnya yang berbunyi ” Katakan ! kepunyaan Allah-lah timur dan barat” sebagai jawaban untuk menguatkan aqidah kaum muslimin. Kemudian di ayat lanjutannya Allah Ta’ala mengikrarkan bahwa upaya Tasykik yang mereka lakukan merupakan ujian bagi sahabat dan Allah Ta’ala mewajibkan kaum muslimin untuk selalu berpegang teguh pada Islam meski ujian, cacian, dan hinaan menimpa mereka.
Setelah beberapa abad berlalu, orang kafir terus berupaya dengan berbagai cara baru, berupa propaganda dan konspirasi keji untuk menggoyahkan kaum muslimin tetapi mereka telah gagal dan selalu gagal sampai kapanpun.
Pada dasarnya, persoalan ketsiqohan adalah satu dari sekian banyak persoalan-persoalan penting di kehidupan umat, bangsa, harokah (gerakan) dan partai. Maka barang siapa dari gerakan-gerakan (harokah) atau partai (hizb) itu tidak tsiqoh (teguh) dengan akidah dan pemikiran yang dibawa oleh partai atau gerakan yang diikutinya maka sebenarnya ia telah mendekati kehancuran. Maka dari itu tidaklah heran jika kaum kafir penjajah selalu berusaha dengan berbagai cara untuk merusak dan mengrogoti kepercayaan kaum muslimin tentang akidah, fikroh(ide) dan hukum islam sehingga mereka sampai tidak percaya lagi bahwa islam adalah solusi bagi persoalan mereka. Bahkan Kaum kafir penjajah sanggup merubah pemikiran mereka, bahwa Baratlah –dengan pemikiran dan paham kapitalis- solusi sesungguhnya bagi mereka. Kafir penjajah juga sanggup mengubah umat sampai mereka menatap dengan penuh kekaguman, menerima sepenuh hati pada apa-apa yang telah disebarkan barat dan sebaliknya mereka menolak nasihat dari saudara sesama muslimnya. Dan untuk kepentingan persoalan ini kita menemukan bahwa Al Quran juga membalas mereka (Kaum kafir) dengan balik menggoyahkan kepercayaan mereka tentang keyakinan, ide-ide, dan hubungan semu mereka. Dan Al-Quran pun balik meyakinkan kita (kaum muslimin) agar selalu berpegang teguh dengan keyakinan dan pemikiran kita seolah-olah kita menggigitnya dengan geraham kita. Nabi Muhammad Shallaallahu alaihi wassalam bersabda : “Sungguh Allah Ta’ala dengan keadilanNya menjadikan bahagia dan ketenangan didalam ridhoNya dan keyakinan. Dan menjadikan kesedihan dan duka didalam kemarahanNya dan keraguan-raguan”.
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata : “Sedikit sekali orang yang sedang marah -dan dia dalam keraguan- kemudian masuk kedalam hatinya dan memeriksanya (untuk mengobati) walaupun ia tak merasakannya(bahwa ia dalam keraguan). Padahal jikalau ia mau memeriksanya maka ia akan menemukan keyakinannya kembali. Maka ketahuilah ! bahwa Ridho (rela,suka,senang) kawan dari keyakinan. Dan keragu-raguan adalah saudara dari kemarahan.
Maka dari hadist dan perkataan Ibnul Qoyyim tadi telah menjadi jelas bagi kita bahwa dalam ridho atau rela (qona’ah) dengan perintah Allah Ta’ala adalah sumber kebahagiaan. Dan qona’ah dalam menjalan perintah dan menjauhi laranganNya akan melahirkan sikap khudhu’ (tunduk) dan khusyuk (rendah), dan menguatkan keyakinannya kepada Islam dan syariatnya, dan membenarkan semua yang datang dari Rasulullah tanpa keraguan sedikitpun seperti yang telah dilakukan oleh sahabat Abu bakar Asshiddiq radiyallahu’anhu ketika membenarkan peristiwa Isro’ mi’roj Nabi seperti ketika beliau juga membenarkan kerasulan Muhammad dan meyakini bahwa apa yang dikatakannya adalah benar. Dan ketika orang kafir bertanya kepada Abu bakar, beliau menjawab dengan penuh keyakinan. Seandainya tanpa qona’ah Abu Bakar bahwa Muhammad itu rosulullah dan apa yang dia katakan adalah benar maka ia tak akan bisa berdiri tegak seperti gunung dan akan mudah terombang-ambing seperti sebagian sikap kaum muslimin pada saat itu dan langsung akan keluar dari agama islam.
Di dalam Sirah ibnu Hisyam, “Ketika keesokan hari setelah beliau melakukan Isro’ mi’roj orang kafir quroisy menghembuskan kabar bahwa apa yang dilakukan Muhammad itu tidak mungkin. Mereka berkata, : “Demi Allah ini benar, seekor unta menbutuhkan waktu satu bulan perjalanan dari Mekkah menuju Syam dan satu bulan perjalan lagi untuk sampai kembali !”. “Masa, Muhammad pergi kesana hanya dalam waktu semalam !”. “ini tidak mungkin !”. Seketika itu pula banyak orang islam langsung murtad dan sebagian orang pergi ke Abu Bakar dan bertanya mengenai hal itu, “Wahai Abu Bakar ! sahabatmu, Muhammad telah mengaku bahwa ia telah pergi ke Baitul Maqdis, sholat disana, dan pulang kembali kesini hanya dalam waktu semalam saja”. Abu Bakar berkata, “Apakah kalian tidak mempercayainya ?”. “Ya”, “seperti itu jugalah yang terjadi sekarang dimasjid”, jawab mereka. Maka Abu Bakar berkata : “Demi Allah, jika beliau (Nabi Muhammad) telah benar berkata seperti itu maka Nabi benar, maka mengapa engkau sangat terpukau dengan hal itu !”. “Dan demi Allah seandainya ia juga mengabarkan padaku bahwa ia juga datang dari langit ke bumi hanya semalam saya juga mempercayainya (mi’roj)”. Dan ini lebih jauh lagi dari apa yang lain takjubkan darinya kemudian orang-orang itu pun membenarkan Abu Bakae. Kemudian, sampailah berita itu kepada Rosulullah dan Abu bakar berkata kepada Nabi : “Wahai Nabiyullah telah terjadi sesuatu pada mereka, kaummu, bahwa engkau telah mengunjungi baitul maqdis dalam semalam ?”. Nabi menjawab : ” Ya !”. “Maka, ceritakanlah padaku”, timpal Abu bakar. “Baiklah”, jawab Rosulullah. Kemudian Rosulullah menceritakannya. Kemudian, setelah peristiwa tersebut setiap Rosulullah menceritakan sesuatu pada Abu Bakar maka ia selalu berkata :” Engkau Benar dan aku bersaksi bahwa Engkau adalah utusan Allah seperti itu seterusnya. Kemudian Rosulullah berkata pada Abu Bakar : “Kamu, Abu Bakar, adalah orang yang Shiddiq(yang sangat benar). Karena sikap itulah mengapa ia disebut Abu bakar As Shiddiq”.
Allah Ta’ala berfirman : “Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran”. ( QS Al Israa : 60 )
Maka dari itulah mengapa Abu bakar tak pernah sedikitpun ragu pada apa yang datang dari Rosulullah ataupun membenarkan apa yang disampaikan orang kafir dan selalu membenarkan apa yang telah disampaikan Rosulullah padanya.
Maka dari itu, kita juga harus segera membuang keraguan umat ini tentang apa-apa yang sekarang sedang dicengkoki orang kafir kepada kita*. Mulai dari keyakinan bahwa orang kafir dan pemikirannyalah yang benar. Seperti yang selalu mereka katakan dan doktrinkan di negeri-negeri kaum muslimin. Misalnya : paham-paham sosialisme, kapitalisme, persamaan gender, islam moderat, individualisme, pluralisme agama, dan sekularisme. Dan hal itu bisa terjadi hanya dengan menjelaskan kepada mereka tentang kerusakan dan kebatilan pemikiran yang mereka anut sebenarnya adalah pemikiran kufur yang berdiri diatas pondasi kekufuran dan tidak dibenarkan bagi kaum muslimin untuk mengambilnya. Juga dengan mengatakan bahwa obat yang benar bagi mereka hanyalah dengan kembali kepada Islam dan Syari’atnya yang telah diturunkan oleh Allah kepada kita, Karena hanya Allah-lah yang tahu apa yang terbaik baik bagi makhlukNya dan hanya dengan menerapkan Islamlah akan terwujud ketenangan hidup di dunia dan akhirat.
Dan untuk menyampaikan hal ini dibutuhkan kutlah (kelompok) partai politik islam yang memiliki tujuan untuk berdakwah mengingatkan umat agar berhati-hati dan menjauhi pemikiran yang dibawa Kafir barat. Dan juga memiliki tekad berjuang untuk mengembalikan Islam seperti yang dibawa oleh Nabi Muhammad secara Kaffah sampai umat kembali menyakini bahwa Islam dengan pemikiran, dan hukumnyalah yang benar, dan juga berusaha menghilangkan upaya pembelokan tsiqoh yang dilancarkan orang kafir dan antek-anteknya.
Dan yang tak kalah pentingnya adalah kesadaran bahwa yang menjadi sebab begitu mudah mereka menggerogoti iman kaum adalah karena kita tidak memiliki suasana atau kondisi keimanan (Jawwu Al Iman) dalam diri umat. Dengan kata lain, karena tidak adanya Khilafah. Karena hanya Khilafah yang mampu menciptakan kondisi keimanan di dalam diri umat dengan cara menerapkan Islam kaffah. Dan Khilafah jugalah yang akan menjaga mereka dengan membawa risalah dan petunjuk bagi seluruh dunia dengan dakwah dan jihad. Maka setelah muncul kondisi keimanan(Jawwu Al Iman) dalam diri umat, menjadi sulit bagi orang kafir untuk melancarkan aksi-aksinya kepada kaum muslimin seperti yang terjadi selama 14 abad lalu ketika Daulah Islam/ Khilafah ada. Maka dari itu, sekarang, tanpa Khilafah, tidaklah mengherankan ketika ditemukan adanya nuansa pengragu-raguan, sangat mudah bagi orang kafir untuk menggoyahkan iman kaum muslimin kepada diennya (agama) dan sulit bagi pengemban dakwah untuk mengembalikannya. Dan upaya penggoyahan (Azza’za’ah) yakni (upaya menggerakkan sesuatu untuk kemudian mencabutnya) yang dilakukan oleh orang kafir ketika mereka menggerakkan pemikiran dan perasaan kaum muslimin untuk tidak percaya lagi dengan pemikiran islam dan hukum-hukumnya. Setelah itu mereka cabut pemikiran islam itu sampai lenyap dari akal kaum muslimin. Akan tetapi, timbul pertanyaan kenapa mereka sampai bisa tercerabut pemikirannya ?. Hal itu timbul karena mereka tidak memahami hakikat dari akidahnya. Mereka tidak sadar bahwa akidah adalah satu-satunya hal yang memungkinkan bangkitnya kekuatan yang tersembunyi bagi siapa yang menyukainya, akidah adalah rahasia kekuatan untuk bertahan bagi siapa yang membawanya, akidah adalah sinar yang berkilau dengan sendirinya, dan dengan akidah yang menancap itu orang bisa dengan mudah menganggap kesusahan dunia adalah hal yang biasa untuk menguji akidahnya, untuk menguji apakah dia masih bisa teguh diatas akidahnya, dan apakah ia masih bisa berdiri tegak mulia dihadapan manusia dan dengan akidah itu pulalah ia bisa menjadi gunung yang tegak menjulang tidak terpengaruh oleh cambukan para penjahat, tidak terpengaruh hinaan penghina, dan olokan sampah masyarakat bahkan ia tetap tegak di atas jalan akidah.
Dan sekarang, ketika umat hampir percaya lagi dengan syari’at islam, ketika hukum islam itu sudah diteriakkan oleh umat, dan Khilafah itu sudah menjadi cita-cita umat dan hukum kufur ingin mereka lenyapkan serta menjatuhkan para anteknya, dan ketika umat akan bersatu, muncul permasalahan, yaitu sudah menjasadnya dalam diri umat rasa ketidak-percayaan mereka pada gerakan islam yang akan memperjuangkan hal-hal diatas. Hal ini disebabkan karena lemahnya pemahaman umat akan partai islam itu sendiri. Walaupun umat itu paham islam dengan baik, mengetahui thoriqoh (metode) dakwah rosul tetapi mereka tidak mengetahui manakah gerakan yang benar-benar ikhlas dalam memperjuangkannya, ada pepatah (kenali kebenaran, maka engkau akan tahu siapa yang membawanya), sayangnya, umat sedang dalam himpitan dan ketidak jelasan dari thoriqoh dakwahnya. Maka dari itu umat mencoba berganti-ganti partai politik, kemudian menimbang kebaikan partai itu dari dampak yang nyata di masyarakat, dan menimbang-nimbang perannya dalam kenyataan sehari-hari, dan umat juga melihat bahwa beberapa partai politik itu ikut serta hanya untuk mencari dan merebut tampuk kekuasaan dan menjadikan asas mashlahat sebagai asasnya dan menyeru kepada islam namun masih umum dan metode yang kabur. Kemudian mereka sadar bahwa partai seperti ini tidak benar dan fikroh (ide) yang diembannya tidak jelas, kemudian metode yang diusungnya keliru, dan ikatan kepartaiannya bukan ikatan mabda’/akidah, dan para anggotanya tidak ikhlas. Akhirnya, umat sudah tidak percaya lagi dengan partai itu karena mereka yakin partai yang seperti ini telah kehilangan kemampuan alias gagal untuk menjadi harapan umat sebagai gerakan yang dapat memimpin umat ke bentuk yang benar di zaman yang kacau balau seperti ini. Juga sebagai harapan untuk dapat menyatukan negeri-negeri muslim yang besar ini. dan sebagai harapan untuk menjaga mereka dari gempuran kapitalisme yang kaya dengan berbagai cara (politik, ekonomi, pemikiran, ….). Akibatnya umat putus asa dan kehilangan ukuran untuk mengukur partai politik yang benar karena mereka telah menganggap semua partai politik sama saja.
Dan bagaimana cara agar umat yang putus asa ini tahu bahwa masih ada satu gerakan yang ikhlas untuk memperjuangkan mereka ? maka partai itu mutlak harus mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mengenalkan partainya kpada umat dengan menjelaskan pada mereka standart kepartaian yang benar, menjelaskan pada mereka bahwa pemikiran kufur harus dibuang dari benaknya, kemudian menjelaskan bahwa hukum yang mereka anut itu bukan hukum Allah dan mengatakan bahwa yang benar adalah dengan menegakkan hukum Allah. Hanya itu yang dapat membongkar kebusukan orang kafir, kemudian, dengan mengatakan pada umat bahwa semua itu tidak akan bisa terjadi tanpa mendirikan Khilafah dengan pergolakan pemikiran dan perjuangan politik ( As Shiro’ Al Fikry dan Al Kifaah As Siyaasiy )
Lalu ketika umat telah sadar akan adanya hizb atau partai politik yang benar ditambah lagi munculnya kepercayaan dengan partai ini, maka akan lahir ketsiqohan kepada hizb dan dengan segera umat segera beralih kepadanya dan menolongnya.
Tetapi untuk mencapai itu tergantung dari keikhlasan dan kesungguhan para pengembannya, maka para syabab hizb harus kekuatan qona’ah yang besar dan teguh dalam mengembannya sampai umat percaya pada kutlah tersebut. Dengan kata lain umat percaya bahwa partai itu mampu menegakkan Daulah Khilafah, membangun ,menjalankannya roda pemerintahan setelah berdiri, dan yang terpenting mampu menjaga akidah umat. Hanya ini keinginan mereka. Oleh karena itu, sukses dan tidaknya tergantung dari ketsiqohan para anggota hizb dan ketsiqohan akan perannya dalam upanya menegakkannya. Maka, jika keyakinan akan tegaknya khilafah saja tidak dimiliki oleh anggotanya, seketika itu pula anggota hizb itu sungguh tidak dapat berkontribusi sedikitpun. Sebenarnya, menjadi mutlak bagi kita bahwa tsiqoh itu harus berjalan seiring dengan pemikiran yang kita bawa dan yang kita serukan kepada manusia dan berjalan seiring dengan kemampuan hizb untuk menerapkan pemikiran itu -dengan kata lain- pemikiran dan hukum islam itu benar-benar mampu untuk membangun negara yang modern dan kuat, yang mampu menghadapi berbagai rintangan dengan kekuatan iman, dan kesadaran orang yang ikhlas. Maka, jika tidak ada dalam kutlah itu ketsiqohan dengan tujuan yang terfokus dalam memperjuangkan islam dan mengemban dakwah, maka bisa dipastikan bahwa kutlah itu tidak akan sanggup untuk menjadikan umat, memenuhi panggilannya dan mengerahkan seluruh apa-apa yang dimilikinya dalam perjuangan menegakkan Khilafah yang penuh dengan onak berduri. Untuk itu, diperlukan upaya untuk mendahulukan hal yang dapat memperdalam kepercayaan umat kepada hizb akan dakwah yang diembannya hingga umat menilai bahwa partai itu mampu untuk mengatur berbagai macam urusan dan mencari solusinya, mengobati permasalahan masa depan umat, dan mampu menghadapi musuh-musuh umat, dan mampu bergerak dengan penuh kesadaran serta mampu menjaga dan mengawasi harta umat.
Dan untuk meningkatkan kepercayaan umat pada kita Hizbut Tahrir, maka hizb wajib menjelaskan Islam kepada umat dengan terang dan jelas atas asas kepartaian dan politiknya. Dan menjelaskan kepada mereka perbedaan atas hal-hal yang wajib dikerjakan hizb dan hal-hal yang wajib dikerjakan Daulah. Dan mengembalikan ketsiqohan masyarakat melalui aktivitas pemikiran dengan kata lain menyeru kepada umat untuk berpikir secara islami dan mengikatnya dengan akidah dan menjadikan akidah sebagai asas, kaidah, yakni kepemimpinan berfikir yang menjadi landasan bagi umat. Dan perlu diketahui, tsiqoh itu buah dari pemahaman, maka, jika pemahaman Islam –yang didakwahkan hizb- itu telah mereka pahami dengan sebaik-baiknya, maka pemahaman itu akan berpengaruh pada tingkah laku. Bisa dengan menerimanya, atau menolaknya. Dan diterima dan tidaknya ini tergantung dari rasa kepercayaan (tsiqoh) mereka. Dan rasa tsiqoh itu juga tergantung dari kerelaan (qonaah) mereka. Dan kerelaan (Qonaah) itu tidak akan datang kecuali dengan bukti akal atas keshahihan dari apa yang hizb serukan. Inilah sebenarnya yang wajib kita pahami sebagai pengemban dakwah untuk mendapatkan kesetiaan dari umat.
Dan sungguh kita yakin dengan izin Allah bahwa pertolongan Allah sangatlah dekat, bahwa Khilafah pasti datang. Allah berfirman : “Dan dihari itu bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah. Dia menolong yang dikehendakiNya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang”.(S Ar Ruum :4-5 )

Diterjemahkan oleh :
Dari kitab Al Waie Arab edisi 158
Al Muftaqir Anas bin Su’ud
* tambahan dari penerjemah karena ada beberapa tulisan yang hilang

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!