Indikator negara gagal(The Failed State)
dalam perspektif Islam
Ahmad Al Khathwany, dari Al Quds, Palestina
Beberapa waktu terakhir dimedia barat sering didengung-dengungkan tentang apa itu negara gagal(failed States) dan apa indikasinya, oleh karena itu banyak lembaga yang mencoba mendefinisikan tentang ukuran-ukuran, tingkatan, dan titik-titik dimana negara itu dikategorikan gagal atau berhasil. Mereka mengamatinya dari sisi ekonomi, kondisi politik, masyarakat. Lalu, mereka berupaya menentukan indikator dari sisi-sisi tersebut.
Tahun 2005 ada laporan dari sebuah lembaga independen yang berisi nama-nema negara yang termasuk kategori berdasar sejumlah indikator tertentu. Pada tahun 2007 ada juga laporan dari sebuah majalah Furin Policy yang menklasifikasi 177 negara berdasarkan 12 indikator –termasuk perekonomian, kemasyarakatan, dan politik- yang menentukan mereka termasuk dalam negara gagal atauberhasil. Berikut keduabelas indikatornya :
1. tekanan demografis, persebaran penduduk, jumlahnya, dan potensi konflik di dalamnya.
2. potensi masalah keimigrasian dan keemigrasian
3. sistem politik yang merugikan kaum mayoritas, mennyejahterakan minoritas.
4. tidak adanya cendikiawan yang menbangun negara (pindah warga negara atau mengasing).
5. tidak adanya pertumbuhan ekonomi yang baik serta kesenjangan ekonomi di bidang pendidikan, pekerjaan dan pendapatan.
6. inflasi, tidak seimbangnya neraca ekonomi, turunnya kurs, dan turunnya investasi dan anjloknya pendapatan perkapita.
7. hilangnya legitimasi negara, banyaknya koruptor, akuntabilitas yang tidak transparan dan lemahnya lembaga kepercayaan.
8. pelayanan masyarakat yang tidak memadai.
9. pelanggaran hukum dan hak asasi manusia.
10. masalah keamanan misalnya, ada negara dalam negara, negara dikontrol militer, dan munculnya konflik senjata diberbagai pusat kekuasan.
11. pemerintah dikontrol hanya oleh segelintir orang dan munculnya daerah yang rawan memberontak(terlalu otonom).
12. turut campurnya negara lain kedalam negara tertentu untuk mengatur perundang-undangannya, pasukan militernya dan berbagai macam bantuan keamanan dan keselamatan suatu negara.
itulah 12 indikator yang dijadikan dasar apakah negara itu gagal atau tidak. Dan dari 12 hal itulah dapat diambil kesimpulan bahwa negara gagal adalah negara yang tidak bisa mengatur urusannya atau menguasai negaranya sendiri. Biasanya hal itu berkaitan dengan urusan keamanannya, bisa juga karena kegagalan pemerintahan dalam mengambil keputusan berpengaruh. Lalu bisa juga ditambahkan karena gagalnya pemerintah dalam mengatur pelayanan pada masyarakatnya. Bisa juga akibat dari ketidakmampuannya untuk meningkatkan posisi tawarnya dimata dunia internasional dan juga bisa karena tingginya tingkat kriminalitas dan munculnya pemberontakan.
Dan berdasar laporan tersebut negara yang sekarang disebut-sebut sebagai failed stated rupanya cocok dengan indikator-indikator tersebut. Terbukti, Somalia, Sudan, Iraq, Kongo, Sierra leone, Chad, Yaman, Afrika Tengah, Liberia, Pantai Gading, dan Haiti masuk dalam kategori sepuluh besar pertama dalam laporan lembaga tersebut. Dan adapan mesir, Bangladesh, Saudi, dan mayoritas negara arab dan negeri-negeri islam masuk dalam 50 besar nama-nama negara gagal.
Tetapi rupanya lembaga-lembaga independen barat itu tidak tahu satu hal penting yaitu dampak dari itu semua juga disebabkan negara-negara imperialis barat yang menjajah ekonomi, politik, masyarakat dari negara gagal(failed state). Dan mereka juga lupa bahwa yang menguasai kebijakan vital negara gagal itu adalah negara kafir penjajah(imperialis barat) sementara pemerintah negara gagal sendiri hanyalah sebagai boneka yang mengatur masalah-masalah non vital saja. Wal hasil sampai sekarang negara gagal itu tak bisa keluar dari krisis yang menimpanya. Dengan kata lain, kesengsaran itu semua memang disengaja dan dibuat oleh Amerika dan negara imperialis barat lalu mereka –para pejabat negara gagal itu- adalah agen dan antek-anteknya. Dan sebenarnya inilah faktor utama penyebab mereka dikatakan negaranya gagal yaitu, karena penjajahan yang dilakukan negara kafir barat penjajah.
Adapun negara-negara gagal -yang kebanyakan negeri-negeri kaum musliminyang sekarang sedang kita digantungkan asa untuk tegaknya islam- bukanlah islam dan syariahnya penyebab kegagalan melainkan karena faktor para pemimpin, pemerintah, dan undang-undang buatan manusianya. Karena pada faktanya ketika islam ditegakkan dengan sempurna yang justru terjadi adalah negara itu adil, maju, berkembang pesat dan hakekatnya semakin negeri islam menjauh dari hukum islam semakin gagal, mundur, dan terpuruklah mereka.
Dan didalam perspektif Islam pun ada indikator-indikator negara yang dikatakan gagal dalam pandangan Syara’ :
1. kedzaliman penguasa
عن النعمان بن بشير قال: قال رسول الله (صلى الله عليه وآله وسلم): «أَلاَ إِنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ، فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَمَالأَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَلَيْسَ مِنِّي، وَلاَ أَنَا مِنْهُ. وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَلَمْ يُمَالِئْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَهُوَ مِنِّي، وَأَنَا مِنْهُ» (رواه أحمد)
Dari Nu’man bin basyar berkata : Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “akan datang setelahku para pemimpin yang berbohong dan bersikap dzalim pada rakyatnya, maka barang siapa yang membenarkan kebohongannya dan membantunya kedzalimannya maka ia bukan umatku dan aku bukan bagian darinya, dan barang siapa yang tidak membenarkan kebohongannya dan tidak membantunya(dalam berbuat dzalim) maka dia itulah umatku dan aku bagian darinya”.(HR Ahmad).
Dan kejahatan pemimpin juga kejahatan negara. Yaitu ketika negara tidak memberikan hak-hak rakyat sesuai Syara’. Akhirnya timbullah kudeta dari rakyat karena kedzalimannya, eksesnya negara melemah lalu jatuh dalam waktu singkat.
Lalu dari segi kebohongan penguasa artinya ketika negara dan pejabat itu dalam kebijakan politiknya banyak pengelabuan, tidak nyata dampaknya, membodohi rakyat kemudian suatu saat terbongkar kebusukannya. Maka cepat atau lambat negara itu juga akan jatuh.
Kedzaliman dan kebohongan penguasa jika ada dan berkumpul jadi satu dalam satu negara maka kedua hal itu akan menyesatkan dan mencerabut kepercayaan umat pada negaranya. Dan itu akan diikuti dengan tercerai-beraikannya para Ahlu quwwah(pihak militer), Ahlu ‘ilmi(cendikiawan) dari negara. Lalu dengan sendirinya negara itu menjadi negara gagal, melemah tak punya kekuatan yang nyata(mandiri) kecuali hanya bersandar pada kekuatan dari luar. Dan kekuatan dari luar itupun tidak akan bertahan lama dan sedikit demi sedikit daya tahan tahan negara itu akan bergantung sepenuhnya pada asing dan pada kekuatan terakhir sisa-sisa.
2. perselisihan dan perpecahan umat.
قال تعالى: (وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ)
Allah berfirman : Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(Qs : Al Anfal : 46)
وقال (صلى الله عليه وآله وسلم): «مَنْ بَايَعَ إِمَامًا، فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ، فَلْيُطِعْهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ، فَاضْرِبُوا عُنُقَ الآخَرِ» (رواه أحمد)
Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “barang siapa yang telah membaiat pemimpin(imam) maka dia telah berikan kedua tangan dan hatinya, maka taatilah ia dan apabila datang kepadanya pemimpin(imam) lain maka penggalah lehernya.(HR Ahmad)
وقال (صلى الله عليه وآله وسلم) أيضاً: «مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ، وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ» (رواه ابن حبان).
Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam juga bersabda : barang siapa yang keluar dari ketaatan(memberontak) dan berpaling dari jama’ah( kepemimpinan umat bersama) maka matinya mati dalam keadaan jahiliyyah.(HR Ibnu Hibban)
Telah dijelaskan bahwasanya berpisah(berontak) dan keluar dari bai’at Imam (pimpinan kaum muslimin) yang pertama atau imam yang adil yaitu imam yang dibaiat dengan baiat yang sah sesuai syariah hal itu masuk dalam kategori meninggalkan jama’ah(kepemimpinan umat bersama). Dan keluar dari jamaah itu akan menyebabkan suatu negara mengalami kegagalan. Dan ini terjadi ketika daulah Khilafah Utsmaniyah yang dulunya satu sekarang runtuh dan terpecah jadi banyak negara akibat dari keluarnya mereka dari jamaah(daulah Khilafah Utsmaniyah).
3. seruan fanatisme seperti, nasionalisme, suku dan ras, fanatisme kelompok
قال عليه الصلاة والسلام: «وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ، أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً، فَقُتِلَ، فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ، وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي، يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا، وَلا يَتَحَاشَى مِنْ مُؤْمِنِهَا، وَلا يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ، فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ» (رواه مسلم(.
Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : barang siapa yang berperang dibawah panji fanatisme dan berseteru karena fanatisme, atau menyeru pada fanatisme golongan, atau membantu fanatisme, kemudian ia mati karenanya maka ia mati mati Jahiliyah dan barang siapa dari umatku (rosulullah)yang menentukan nasib umat baik dan buruknya dan ia tidak malu pada umat yang telah memberinya amanah kepemimpinan. Dan ia tidak memberi hak orang yang berhak menerima, maka ia bukan umatku dan aku bukan bagian darinya.(HR Muslim).
maka dari itu, berperang dibawah panji fanatisme nasionalisme yang dibenci oleh islam, yang batil serta sempit dan berjuang karena fanatisme suku yang hanya menyisakan pertumpahan darah merupakan dosa besar dilihat dari segi pembunuhan yang dilakukan dengan alasan fanatisme golongan bukan untuk meninggikan kalimat Allah dimuka bumi, begitu juga menyeru dan memberikan pertolongan pada nasionalisme juga merupakan dosa besar. Dan ini cocok pada penguasa sekarang yang –seperti hadist yang disebutkan tadi- bahwa penguasa sekarang tidak malu pada rakyat yang memberinya kepercayaan(tampuk kepemimpinan) padanya dan dia juga tidak menepati janji(memberikan haknya pada yang berhak) persis dan terbukti sekarang, seperti yang dilakukan oleh negara pengemban nasionalisme yang memenjarakan para pengemban dakwah dan menyematkan nama terorispada para mujahidin.
Dan yang paling tampak pada zaman sekarang adanya kebencian yang dalam dari penguasa pada pengemban dakwah dan dienul islam. Persis dengan apa yang disabdakan rosulullah Shallallahu alaihi wasallam:
«وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ» (رواه مسلم)
Seburuk-buruk pemimpin adalah pemimpin yang kalian benci dan mereka membenci kalian dan kalian mengutuk perbuatannya seperti mereka mengutuk perbuatan anda.(HR Muslim).
4. tidak adanya koreksi kepada penguasa
إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابِهِ» (رواه أحمد)،
Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “jika manusia melihat satu orang saja berbuat dzalim dan Mereka diam saja(tidak mencegahnya) maka hampir saja Allah meratakan Adzabnya keseluruh kaum tersebut”.(Hr Ahmad)
«مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا، ثُمَّ لا يُغَيِّرُوا، إِلا يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ»
Diriwayat yang lain, Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :”jika suatu kaum didalamnya ada kemaksiatan, lalu mereka(kaum tersebut) mampu mengubahnya tapi dia tidak enggan mengubahnya maka hampir-hampir saja Allah menimpakan seluruh adzabnya keseluruh kaum tersebut.”(HR Abu Dawud)
Dan Abu bakar asShiddiq radhiyallahu ‘anhu Khalifah pertama pengganti Rosul pernah menerapkan hadist ini pada masa kepemimpinannya yakni ketika beliau berada diatas mimbar, beliau menyuruh rakyatnya untuk mengevaluasi kinerjanya, mengkritik rakyat mengadukan nasibnya, meminta hak-haknya, dan aktivitas muhasabah untuk penguasa, dan ini juga diteruskan oleh khalifah-khalifah sesudahnya(khulafaurrosyidin) sampai-sampai hal itu menjadi kebiasaan pada zaman itu.
Maka dari itu, dengan tidak adanya koreksi ke penguasa atau memang penguasa itu tidak menghendakinya juga tidak adanya upaya amar ma’ruf nahi munkar maka–dengan sendirinya- kesalahan ini menjadi serpihan kecil awal dari kegagalan suatu negara dan keguncangannya. Selanjutnya, hal itu membuat penguasa -dan kroni-kroninya yang busuk- menjadi pendikte, penggenggam kekuasaan yang dzalim yang menindas rakyatnya seperti sampah.
Dan keempat indikator tadi oleh rosulullah Shallallahu alaihi wasallam disabdakan dalam hadistnya :
إِنَّ أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ (سنن الدارمي)
“Sesungguhnya hal yang paling kutakuti (dari apa-apa yang kutakuti) akan menimpa kalian umatku adalah penguasa yang menyesatkan”.(Sunan adDaarimy)
Dan hadist ini telah mencakup seluruh sifat yang dimiliki penguasa diseluruh dunia yang menjadikan negaranya sendiri menjadi negara gagal seperti juga negara-negara di negeri kaum muslimin. Jadi, yang dimaksud penguasa yang menyesatkan adalah mereka yang dzalim dan membohongi rakyat, yang keluar dari tatanan Syariah, yang menyeru pada fanatisme(nasionalisme, kesukuan, kejahiliyahan)lalu berperang dibawah panji fanatisme, dan yang tidak mau dikoreksi oleh rakyatnya atas kebodohannya, kesalahannya dan seluruh perbuatan kejinya.
Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam mensifati penguasa seperti itu dalam sabdanya :
«يَكُونُ أُمَرَاءُ تَلِينُ لَهُمُ الْجُلُودُ وَتَطْمَئِنُّ إِلَيْهِمُ الْقُلُوبُ، وَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ تَشْمَئِزُّ مِنْهُمُ الْقُلُوبُ وَتَقْشَعِرُّ مِنْهُمُ الْجُلُودُ، قَالُوا: أَفَلا نَقْتُلُهُمْ؟ قَالَ: لا مَا أَقَامُوا الصَّلاةَ» (رواه أحمد )
“akan datang para pemimpin yang lembut bagi kaumnya dan menentramkan hatinya(akibat kebaikannya) dan juga akan datang kepada kalian para penguasa yang bengis hatinya dan membuat kulit kalian menggigil ketakutan(akibat kedzalimannya). mereka berkata :”apakah kita harus membunuhnya(jika ada penguasa seperti itu ?”, jangan, selama ia masih mendirikan sholat”.(Hr Ahmad)
Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menghubungkan antara kedzaliman penguasa, kerusakan ulama’ dan ahli bid’ah. Dari Ziyad bin khudair : Umar berkata kepadaku : Apakah kau tahu apa yang menyebabkan Islam hancur ? tidak, aku tidak tahu. Umar berkata lagi : “yang menghancurkan Islam adalah terpelesetnya lidah orang berilmu, orang munafik yang membantah AlQuran, dan Aimmah(penguasa-penguasa) yang menyesatkan.(Atsar riwayat Ad Darimy)
Kerusakan penguasa bermakna kerusakan negara dan kegagalannya. Karena negara tergantung siapa penguasanya. Jadi sifat penguasa dicerminkan oleh negaranya. Dan para shahabat, tabi’in dan ulama’ memahami hal ini dengan baik, yaitu, dengan adanya Atsar dari Jibrity dalam kitab ” ‘ajaibi alAtsar” dia berkata : “suatu kali Muawiyah Al Ahnaf bin Qoisy bertanya ? Apakah Zaman itu ? dia menjawab : “Engkau, Wahai Muawiyah adalah Zaman itu. Jika Engkau berbuat kebaikan diwaktu kau berkuasa maka zaman pun akan menjadi baik. Tetapi jika berbuat kerusakan, rusaklah zaman itu.”
Juga seperti yang dikeluarkan dari Ibnu Asakir dari Bakar Al Abid, ” telah berkata Sufyan AtTsaury kepada Abu Ja’far Al Mansur (penguasa saat itu): “aku tahu bahwa ada satu orang jika dia baik maka umat pun jadi baik !”, Siapakah dia ? “Tanya Abu Ja’far Al Mansur”, Engkau, “Jawabnya”.
Dan dari Riwayat Imam Bukhari rahimahullah dari Marwan bin Qoisy bahwa di(Marwan) telah mendengar dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Umat akan terus menerus dalam keadaan baik selama pemimpinya pun juga”.
Inilah indikator-indikator negara gagal menurut pandangan islam yang shahih bisa kami ambil dari sumber hukum yang Qath’iy berdasarkan sumber hukum Syara’ yang sesuai dengan fitrah manusia.
Dimana dengan indikator itu kita bisa kerucutkan bahwa seluruh negara didunia ini adalah negara yang gagal, yang tak mampu membuat rakyat bahagia, walaupun sebagian darinya memiliki kekuatan dan kemajuan.
Sumber : www.al Waie.org(edisi arab)
Diterjemahkan oleh Anas Irul
Info terjemahan selengkapnya kunjungi : www.diskusiarab.wordpress.com